Telegram Ditutup, Teroris Beralih ke Aplikasi Baaz

investigasi.co.id – Penutupan Telegram yang dikatakan sebagai saluran penyebaran paham terorisme ternyata tidak menyelesaikan masalah penyebaran paham radikal di Indonesia. Setelah Telegram, Kemenkominfo menemukan indikasi penggunaan aplikasi Baaz sebagai alternatif lain.

Menurut pengakuan staf ahli Kemenkominfo Henry Subiakto, paska penutupan Telegram, teroris masih belum berhenti untuk menyebarkan radikalisme di Indonesia. Sekarang ini mereka mulai beralih pada situs-situs lain yang masih memberikan keleluasaan.

“Untuk rekrutmen masih di media sosial. Dia ganti-ganti akun, tapi sudah privasi. Saya gak tahu perkembangan terakhir. Ada yang mengatakan Baaz. Tapi mungkin yang lain lain saya ndak tau,” jelasnya.

Henry menceritakan bahwa di dalam aplikasi Telegram, masyarakat diajarkan bagaimana cara buat bom dan bagaimana cara supaya hatinya kuat sebagai teroris dalam melakukan tindakannya yang radikal. Teroris disinyakir mempunyai banyak situs dan meskipun sudah ditutup, tapi teroris tetap kembali membuat situs baru. “Makanya ketika kita blokir sebenarnya orangnya protes tapi mereka gak proses ke Kemenkominfo, mereka bikin baru,” lanjutnya.

“Udah banyak. Kalau yang radikalisme baru 3 ribuan lah. Sekitar itu yang kita blokir,” terang Henry.

Menurutnya, teroris sangat aktif perihal untuk mencari dukungan massa melalui situs. Sejak dulu Telegram memang sudah dipantau sebagai sarang penyebaran terorisme, tapi agak sulit bahi pemerintah untuk membuktikan karena tidak adanya keterbukaan. Setelah Telegram diblokir, teroris ini kemudian membuat aplikasi sendiri yang diduga adalah Baaz.

“Mungkin mereka buat aplikasi sendiri untuk komunikasi seperti yang mereka lakukan di Telegram. Karena mereka juga ada ahli IT. Tapi memang ada, kita sedang operasi dan belum bisa saya sampaikan. Mereka juga pintar bukan hanya menggunakan satu aplikasi,” pungkas Henry.

Sedangkan Kasubdit napi deradikalisasi BNPT Kolonel Sigit Karyadi memaparkan bahwa ciri-ciri orang yang menganut paham radikalisme bisa terlihat dari beberapa hal. Salah satunya adalah apabila seseorang sangat apatis dengan pemerintah atau dari penggunaan internetnya.

“Kalau dia sering menggunakan internet, itu apa yang dia lihat. Contohnya kalau perpustakaan,dia membuka situs yang pembahasan radikal. Kan berbeda kalau pornografi kan bahasnya pornografi. Kalau dia introvert terhadap radikal, dia bahasnya soal radikal,” jelas Sigit.

“Kalau kita Jumat’an, dia juga tak mau gabung, karena dia berpikiran Islam di Indonesia buatan thogut, takfiri. Kita ini semua yang muslim adalah kafir kalau bukan sesuai keinginan kita. Dia cenderung sendiri, bahkan cenderung bersosialisasi. Kalau Muslim beribadah, dia tak beribadah. Dia taqwa sebenarnya, tapi versi dia sendiri dia merasa takwa. Dia kalau diskusi agama itu cerdas. Ketika dia ibadah dengan kawan-kawan cenderung menghindar,” lanjutnya. (tirto.id – ylk/ylk)

Sumber : tirto.id

Iklan

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *