INDONESIA DAN KEKERASAN ANAK DIDALAMNYA

Kekerasan dapat terjadi dimanapun dan kapanpun, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia mencatat angka kekerasan terhadap anak pada masa pandemi 2020 adalah sejumlah 3.087 kasus dengan kekerasan seksual yang berjumlah 1.848 kasus diantaranya. Pelaku kekerasan terhadap anak justru kebanyakan datang dari orang terdekat korban, seperti anggota keluarga, guru, dan pengasuhnya. Hal ini bisa disebabkan oleh banyaknya waktu yang dihabiskan di rumah ditambah dengan masalah-masalah yang muncul seperti krisis sosial ekonomi yang memengaruhi tingkat stres diakibatkan oleh pandemi, sehingga anak rentan menjadi korban kekerasan.

Kejadian kekerasan anak seperti ini sangat bertolak belakang dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Segala bentuk kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga, merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus. Banyaknya landasan hukum yang melindungi anak, seperti UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak tidak mampu menjadi pengahalang akan kekerasan yang terjadi.

Sejak kecil, anak sudah kenal dengan berbagai bentuk tindak kekerasan, seperti kekerasan verbal, fisik, hingga seksual. Figur dan rasa kepercayaan anak terhadap orang tua akan hilang begitu saja ketika mereka sudah menjadi korban atas permasalahan orang tuanya. Seperti halnya yang terjadi baru-baru ini, seorang Ayah di Tangerang Selatan menyiksa anaknya yang baru berusia lima tahun didasari rasa cemburu terhadap istri yang menceraikannya. Ia tega melampiaskan kekesalannya pada sang anak yang tidak mempunyai salah.

Ketakutan, sakit hati, cedera, dan trauma bisa dengan mudah menghancurkan tumbuh kembang dan masa depan anak yang menjadi korban kekerasan. Jika sudah terjadi, hal yang dapat dilakukan baik oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), psikolog, teman, maupun keluarga terdekat lainnya adalah untuk memastikan bahwa anak mendapatkan pendampingan dan menjaga korban agar tetap dalam kondisi yang baik.

Hampir setiap korban kekerasan, khususnya pelecehan seksual atau pemerkosaan, baik dewasa maupun anak-anak, berpotensi menimbulkan stres saat menghadapi pelaku atau tersangka di pengadilan. Sebagai korban, anak harus dipersiapkan untuk bersaksi dipersidangan. Mereka yang menjadi korban, terutama tentang pelecehan, cenderung menghadapi persidangan dengan rasa takut. Maka dari itu, diperlukan peran psikolog untuk memberikan perlindungan, pendampingan pada setiap proses peradilan, dan membantu anak dalam mempersiapkan dirinya maju sebagai saksi. Anak harus dibuat senyaman mungkin sehingga mereka mampu untuk mengungkapkan apa yang terjadi secara rinci. Pemberian perlindungan dan penampingan dapat dilakukan di setiap tingkat pemeriksaan mulai dari penyidikan, penuntutan, sampai dengan pemeriksaan di persidangan.

Seiring dengan berjalannya proses hukum yang berlaku, bentuk kehadiran dan perhatian yang dapat diberikan oleh keluarga dan teman korban bisa dengan melalui meluangkan waktu untuk selalu ada disamping korban bila dibutuhkan, memberikan rasa aman, memberikan dukungan, serta tidak menyalahkan korban atas apa yang telah terjadi, dan menerima kenyataan.

Jika Anda adalah korban atau mengetahui kekerasan yang telah terjadi disekitar Anda, segera laporkan ke pihak polisi terdekat, P2TP2A, atau Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA) 119 ext 8, bisa juga melalui Telepon Sahabat Anak (TESA) 129 yang berada dibawah naungan Kemen PPPA. (nanda)

Referensi :
Fulero, S. M., & Wrightsman, L. S. (2008). Forensic psychology. Cengage Learning.https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2738/angka-kekerasan-terhadap-anak-tinggi-di-masa-pandemi-kemen-pppa-sosialisasikan-protokol-perlindungan-anak

Oleh :
Nanda Annisa Salsabila
Mahasiswa Psikologi – Universitas Pendidikan Indonesia
Email : nandaanisa89@gmail.com
No. HP : 082114672397

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel ini telah dilihat : 34 kali.