Sampai Kapan Hutang kepada Tuhan Akan Selesai?

Opini539 Dilihat

Literasi co.id – Cirebon 10 Juni 2026 – Manusia sering berbicara tentang hutang piutang. Ada hutang kepada bank, kepada sahabat, kepada keluarga, bahkan kepada negara. Semua hutang itu memiliki batas waktu, memiliki nilai yang dapat dihitung, dan suatu saat dapat dilunasi. Namun ada satu hutang yang tidak akan pernah mampu dibayar lunas oleh manusia, yaitu hutang kepada Sang Pencipta.

Sejak pertama kali membuka mata di pagi hari hingga kembali memejamkan mata di malam hari, manusia hidup dalam lautan nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Udara yang dihirup tanpa harus membeli, jantung yang berdetak tanpa perlu diperintah, darah yang mengalir tanpa perlu diawasi, serta kesehatan yang sering kali baru disadari nilainya ketika hilang. Semua itu diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan.

Coba renungkan sejenak. Berapa harga seteguk oksigen jika harus dibayar? Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk satu denyut jantung? Berapa nilai penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berpikir yang setiap hari kita gunakan? Tidak ada manusia yang mampu menghitungnya, apalagi membayarnya.

Ironisnya, manusia sering kali lebih sibuk menghitung kekurangan daripada mensyukuri karunia yang telah diterima. Ketika satu keinginan tidak terpenuhi, ia lupa pada ribuan nikmat yang telah diberikan. Ketika menghadapi ujian hidup, ia terkadang mempertanyakan keadilan Tuhan, padahal selama puluhan tahun menikmati karunia-Nya tanpa pernah diminta membayar.

Lalu sampai kapan hutang kepada Tuhan akan selesai?
Jawabannya, tidak akan pernah selesai. Sebab setiap detik Tuhan terus menambahkan nikmat-Nya kepada kita. Bahkan ketika kita sedang tidur, Tuhan tetap menjaga kehidupan kita. Saat kita terjatuh, Tuhan memberi kesempatan untuk bangkit. Saat kita berbuat salah, Tuhan masih membuka pintu ampunan. Saat kita jauh dari-Nya, Tuhan masih memberi rezeki dan kehidupan.

Karena itu, tujuan hidup bukanlah melunasi hutang kepada Tuhan, sebab manusia tidak akan pernah mampu melakukannya. Yang dapat kita lakukan hanyalah berusaha menjadi hamba yang bersyukur, memperbanyak kebaikan, menjaga amanah, membantu sesama, dan mendekatkan diri kepada-Nya sebagai bentuk rasa terima kasih atas segala nikmat yang telah diberikan.

Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah” yang keluar dari lisan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan. Ketika memiliki kelebihan rezeki, berbagi kepada yang membutuhkan. Ketika memiliki ilmu, mengajarkannya kepada orang lain. Ketika memiliki kekuasaan, menggunakannya untuk keadilan. Itulah cara manusia menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang tidak akan pernah mampu dibalas.

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa sadar kita bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Jabatan akan berakhir, kekayaan akan ditinggalkan, dan usia akan habis pada waktunya. Namun rasa syukur akan menjadi bekal yang menemani perjalanan menuju kehidupan yang abadi.

Maka, jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bernapas, masih dapat melihat indahnya dunia, masih bisa berkumpul dengan keluarga, dan masih diberi kesempatan berbuat baik, jangan tunda untuk bersyukur. Sebab setiap nikmat yang kita rasakan adalah bukti kasih sayang Tuhan yang tak pernah berhenti mengalir.

Hutang kepada manusia mungkin bisa lunas. Namun hutang kepada Tuhan hanya bisa dibayar dengan rasa syukur yang terus menerus hingga akhir hayat.