investigasi.co.id Cirebon – Siang itu, di sudut wilayah Dikesunean, seorang pria tampak berdiri di bibir kolam dengan langkah hati-hati. Tangannya menebar pakan, sementara permukaan air berwarna kehijauan bergejolak oleh ribuan benih lele yang berebut makan. Ia adalah Mulyadi petani ikan lele yang sejak 2017 bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
Dari pantauan Media pada Selasa (9/4/2026), Mulyadi terlihat memberi makan sekitar 60 ribu ekor benih lele dengan ukuran bervariasi antara 3 hingga 5 centimeter. Dengan wadah sederhana di tangan, ia menjalankan rutinitas yang bukan hanya soal memberi pakan, tetapi juga menjaga harapan.
“Dulu sempat jalan bagus,” kisahnya singkat.
Bukan tanpa alasan. Pada masa produktifnya, Mulyadi mampu menyuplai lebih dari tujuh warung pecel lele di Kota Cirebon. Usahanya bahkan menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga, berdampingan dengan aktivitasnya sebagai pedagang ayam potong di Pasar Kanoman.
Namun, realitas berkata lain.
Usaha yang pernah berkembang itu perlahan tersendat. Pembayaran dari mitra yang macet, kemampuan produksi yang menurun, hingga harga pakan yang fluktuatif menjadi tekanan dan memberatkan. Di saat yang sama, kondisi sarana yang terbatas juga ruang gerak.
Di lokasi, kondisi kolam menggambarkan situasi tersebut secara nyata. Bangunan semi permanen dari bata dan semen tampak mulai mengalami penurunan fungsi. Dua kolam bahkan terlihat kosong akibat kebocoran di bagian dasar. Sementara itu, satu bak besar berbahan fiber glass menjadi alternatif seadanya untuk mempertahankan siklus budidaya. Kualitas air yang belum stabil pun menjadi tantangan tersendiri yang tak bisa diabaikan.
Kondisi ini bukan hanya dialami Mulyadi. Secara umum, petani ikan di Kota Cirebon masih dihadapkan pada persoalan klasik: keterbatasan modal, tingginya harga pakan, serta minimnya pendampingan teknis dan akses pasar yang berkelanjutan.
Padahal, di tengah isu ketahanan pangan, sektor perikanan air tawar terutama lele memiliki potensi besar. Siklus panen yang cepat dan permintaan pasar yang stabil menjadikan komoditas ini sebagai salah satu solusi konkret dalam pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.
Ironisnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan perhatian serius dan dukungan sistem yang kuat.
Di tengah situasi itu, Mulyadi memilih untuk tidak menyerah. Ia mulai membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang memiliki lahan. Skemanya sederhana: lahan disediakan oleh mitra, sementara ia siap menyuplai benih lele.
Yang menjadi nilai lebih, benih yang ditawarkan bukan hasil beli dari luar, melainkan hasil pembenihan yang ia kembangkan sendiri secara alami. Sebuah proses yang lahir dari pengalaman panjang, sekaligus bentuk kemandirian yang jarang mendapat perhatian.
Langkah ini bukan sekadar strategi bertahan, tetapi juga upaya membangun ekosistem usaha berbasis kolaborasi.

Di balik kolam sederhana itu, ada gambaran besar yang patut menjadi perhatian. Bahwa ketahanan pangan tidak selalu lahir dari program besar, tetapi juga dari perjuangan individu-individu kecil yang terus bertahan.
Kini, Mulyadi masih berdiri di tepi kolamnya menebar pakan, menjaga harapan. Namun pertanyaannya, sampai kapan ia harus berjuang sendiri?
Jika ketahanan pangan benar-benar ingin diwujudkan secara mandiri, maka sudah saatnya petani seperti Mulyadi tidak hanya dilihat sebagai pelaku usaha kecil, tetapi sebagai bagian penting dari solusi yang membutuhkan dukungan nyata.
-Hans-







