Investigasi.co.id, Cirebon, 16 April 2026 — Suasana panas menyelimuti kawasan Kampung Wanacala, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Puluhan warga yang mendiami kawasan yang dikenal sebagai “Bong China” meluapkan protes keras terhadap Harry Saputra Gani, menyusul pernyataannya dalam sebuah video yang beredar di YouTube melalui kanal YouTube unggahan @PILARADIO886FMCIREBON.
Pernyataan yang menyinggung status kawasan Bong China itu dinilai tidak hanya melukai, tetapi juga memicu konflik horizontal di tengah masyarakat yang telah puluhan tahun hidup berdampingan di wilayah tersebut.

Puncak ketegangan terjadi pada Rabu malam, 15 April 2026. Aksi protes warga meledak setelah salah satu warga bernama Rizal, mengaku mendapat tudingan langsung dari Harry Saputra Gani sebagai pelaku pembongkaran makam ilegal.
Ucapan bernada intimidatif dan arogansi yang disebutkan, “kamu jangan bongkar makam-makam lagi”, menjadi titik api yang menyulut kemarahan warga. Rizal dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
“Kalau memang ada makam yang dibongkar, makam yang mana? Saya tidak pernah melakukan itu,” tegas Rizal di hadapan awak media.
Kesaksian serupa juga disampaikan warga lain yang berada di lokasi. Mereka memastikan bahwa Rizal tidak pernah melakukan tindakan melanggar hukum seperti yang dituduhkan. Bahkan, warga secara terbuka mempersilakan pihak berwenang untuk memeriksa seluruh bangunan di kawasan tersebut.
Warga menegaskan bahwa rumah-rumah yang berdiri di kawasan Bong China tidak dibangun di atas makam yang masih berisi jasad. Isu pembongkaran makam ilegal pun dibantah keras.
Suparman, kuncen atau juru kunci makam Bong China, menjelaskan secara rinci bahwa setiap proses pembongkaran makam selalu melalui prosedur resmi dan adat yang ketat.
“Pembongkaran makam hanya dilakukan atas permintaan ahli waris. Kami juga berkoordinasi dengan aparat seperti Babinkamtibmas. Setelah itu, tulang belulang dikremasi dan abunya dilarung ke laut sesuai adat dan Keagamaan,” jelas Suparman.
Ia juga menegaskan bahwa tuduhan adanya praktik ilegal maupun keterlibatan mafia tanah adalah tidak berdasar dan mencederai nama baik warga.
Menurut keterangan warga, polemik sengketa lahan Bong China bukanlah hal baru. Konflik ini telah muncul sejak Maret 2023 dan sempat memicu beberapa gesekan. Namun, situasi kembali memanas setelah isu ini kembali diangkat ke publik oleh Harry Saputra Gani melalui berbagai media.
Warga menilai langkah tersebut justru memperkeruh suasana, bukan mencari solusi.
Kritik Tajam untuk Wakil Rakyat
Dalam aksi protesnya, warga mempertanyakan sikap seorang wakil rakyat yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat kecil.
“Seharusnya beliau membantu mencari solusi, bukan justru menyerang dan memerangi rakyat kecil,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Mereka menilai, perhatian berlebihan terhadap konflik ini justru menimbulkan kesan adanya kepentingan tertentu, bukan murni memperjuangkan aspirasi rakyat.
Mayoritas warga Bong China merupakan masyarakat menengah ke bawah yang menggantungkan hidup sebagai buruh harian lepas dan pekerja informal. Mereka mengakui bahwa lahan yang ditempati merupakan tanah negara, namun telah menjadi tempat tinggal turun-temurun hingga generasi kelima.
Di tengah keterbatasan, kawasan itu menjadi satu-satunya tempat bagi mereka untuk berteduh dan bertahan hidup.
Warga kini berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dapat turun tangan memberikan solusi konkret agar mereka bisa hidup dengan layak, aman, dan tanpa tekanan.
“Kami hanya ingin hidup tenang sebagai warga negara. Bukan terus diintimidasi oleh kekuasaan atau kepentingan golongan tertentu,” ungkap warga.
Kasus ini menjadi cerminan nyata bagaimana konflik lahan dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang kompleks ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik. Warga Bong China menuntut keadilan, klarifikasi, dan penghormatan atas hak hidup mereka tanpa stigma, tanpa tuduhan sepihak.
– NIKO –






