Halal Bihalal PWI Cirebon: Konsolidasi Wartawan atau Sekadar Seremoni di Tengah Krisis Kepercayaan Publik?

Peristiwa782 Dilihat

Investigasi.co.id – KOTA CIREBON — Di tengah derasnya arus disrupsi digital, maraknya hoaks, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap media, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Cirebon menggelar halal bihalal pada Sabtu (25/4/2026) di Kantor PWI Kota Cirebon, Jalan Elang Raya, Dukusemar, Harjamukti.

Kegiatan yang dihadiri gabungan media, baik anggota maupun calon anggota ini, tak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idulfitri. Lebih dari itu, momentum ini diuji: apakah mampu melahirkan konsolidasi nyata, atau justru berhenti pada rutinitas seremonial tahunan?

Ketua PWI Kota Cirebon, Muhammad Alif Santosa, menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi tantangan dunia jurnalistik yang kian kompleks dan penuh tekanan.
“Ini bukan sekadar halal bihalal. Ini adalah momentum menyatukan visi, memperkuat integritas, dan meningkatkan profesionalisme wartawan di tengah derasnya perubahan,” ujarnya.

Acara tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat daerah, di antaranya, Kapolres Cirebon Kota Eko Iskandar, serta Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib. Kehadiran para pemangku kepentingan ini sekaligus menjadi cerminan pentingnya relasi antara pers dan kekuasaan—relasi yang harus tetap dijaga dalam koridor independensi, bukan kedekatan yang berisiko menggerus objektivitas.

Dalam diskusi yang mengemuka, isu-isu krusial tak terhindarkan: banjir informasi tanpa verifikasi, tekanan ekonomi media, hingga tantangan menjaga akurasi di tengah tuntutan kecepatan. Pers kini berada di persimpangan—antara menjadi pilar demokrasi atau terseret dalam arus pragmatisme informasi.

PWI Kota Cirebon pun dihadapkan pada pekerjaan besar: memastikan anggotanya tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga teguh pada kode etik jurnalistik yang menjadi fondasi utama profesi.
Halal bihalal ini pada akhirnya bukan sekadar simbol maaf-memaafkan, melainkan ujian nyata bagi insan pers: apakah mampu menjaga marwahnya di tengah krisis, atau justru larut dalam euforia kebersamaan tanpa arah perubahan yang jelas.
Komitmen telah diucapkan. Kini publik menunggu pembuktiannya.***

Hisam