Investigasi.co.id, JAKARTA – Pernyataan Kapolda Jawa Timur yang menekankan bahwa ketika seseorang diberikan jabatan, maka yang utama adalah mengurus tanggung jawabnya sendiri, dinilai mencerminkan prinsip kepemimpinan yang tegas: jabatan bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah yang harus dibuktikan melalui kerja nyata.
Prinsip tersebut ternyata sejalan dengan pola kepemimpinan yang selama ini saya terapkan.
“Jangan sibuk mengurusi saya. Jabatan sudah saya berikan, maka urus dan jalankan tanggung jawab masing-masing. Jangan sampai jabatan ada, tetapi wilayahnya tidak diurus,” demikian garis besar sikap kepemimpinan yang saya tegaskan.
Dalam sebuah organisasi, Ketua DPW maupun pimpinan wilayah bukan hanya membutuhkan nama dan posisi. Mereka dituntut mampu membangun komunikasi, menggerakkan organisasi, serta menjalin kemitraan yang baik dengan berbagai pihak, termasuk unsur Humas di wilayah masing-masing.
Jika seorang Ketua DPW tidak mampu menjalankan fungsi tersebut, tentu evaluasi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Saya tidak membutuhkan orang yang hanya kuat di jabatan, tetapi lemah dalam bekerja. Saya membutuhkan orang yang kompeten, mampu berkomunikasi, dan benar-benar memahami tanggung jawabnya.
Karena itu, terhadap kepengurusan di sejumlah wilayah Jawa, dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Mereka yang dinilai tidak mampu menjalankan tugas akan digantikan dengan figur yang dianggap lebih kompeten dan siap bekerja.
Jabatan bukan tempat berlindung. Jabatan adalah tempat membuktikan kemampuan.
Saya tidak ingin organisasi berjalan hanya dengan mengandalkan nama besar. Setiap Ketua harus mampu menunjukkan kinerja dan membangun jaringan di daerahnya.
Bahkan persoalan kemitraan dengan Humas di daerah menjadi salah satu indikator penting. Sebab, komunikasi yang baik merupakan bagian dari profesionalitas organisasi.
Kalau diberi jabatan tetapi tidak mampu mengurus wilayah, untuk apa dipertahankan?
Kepemimpinan membutuhkan keberanian mengambil keputusan. Termasuk menyingkirkan orang-orang yang tidak produktif dan memberikan ruang kepada mereka yang benar-benar memiliki kompetensi.
“Saya tidak mencari orang yang pandai berbicara soal jabatan. Saya mencari orang yang ketika diberikan amanah, langsung bekerja.”
Pesannya sederhana: jangan sibuk mengurusi pimpinan, sementara wilayah sendiri tidak terurus.
Saatnya organisasi diisi oleh orang-orang yang bekerja, bukan sekadar memegang jabatan.
AHMADI






