Niko AL Soroti Krisis Moral Remaja Saat Agama Dinistakan, Justru Ramai-Ramai Meriahkan Tantangan Hafal Al Qur’an Berhadiah Miras

Musyawarah912 Dilihat

Investigasi.co.id, CIREBON – Kasus tantangan hafalan Al-Qur’an berhadiah minuman keras (miras) yang terjadi dalam festival musik The Sounds Project di kawasan Eco Park Ancol, Jakarta Utara, terus menuai sorotan. Namun, di balik dugaan tindak pidana yang kini ditangani aparat penegak hukum, terdapat persoalan lain yang tak kalah serius dan patut menjadi bahan evaluasi bersama.

Sorotan itu datang dari jurnalis Niko AL, dan sebagai aktivis pemerhati lingkungan yang melihat perkara tersebut bukan hanya dari perspektif dugaan penistaan atau penodaan agama, tetapi juga dari fenomena sosial yang terlihat di sekitar lokasi kejadian.

Menurutnya, terdapat satu bagian dari peristiwa yang justru sangat mengkhawatirkan: kerumunan pengunjung yang didominasi remaja dan pelajar di sekitar booth minuman beralkohol, serta respons mereka ketika tantangan hafalan Al-Qur’an tersebut berlangsung.

Dalam video yang beredar, terlihat suasana penuh sorak-sorai ketika seseorang yang mendapat tantangan untuk melafalkan Surah Ad-Duha dinilai berhasil dan kemudian memperoleh hadiah berupa minuman beralkohol.

Bagi Niko AL, persoalannya tidak berhenti pada orang yang memberikan tantangan ataupun orang yang menerima hadiah.

Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa lingkungan di sekitarnya justru ikut larut dalam euforia tersebut?

Di tengah kerumunan yang disebut banyak diisi oleh kalangan remaja dan pelajar, tidak terlihat adanya respons penolakan yang berarti terhadap penggunaan ayat Al-Qur’an sebagai bagian dari sebuah tantangan yang hadiahnya berupa miras.

Tidak terlihat pula adanya upaya untuk menghentikan, memprotes, atau sekadar mempertanyakan tindakan tersebut.

Sebaliknya, suasana justru diwarnai sorak-sorai dan ekspresi kegembiraan bersama.

Niko AL menilai, bagian inilah yang semestinya menjadi bahan renungan lebih luas.

Jika benar mayoritas pengunjung yang berada di sekitar lokasi merupakan remaja dan pelajar, terlebih sebagian besar di antaranya beragama Islam, maka muncul pertanyaan sederhana namun mendasar:

Mengapa tidak muncul kepekaan ketika ayat Al-Qur’an ditempatkan dalam sebuah permainan yang hadiahnya minuman keras?

Apakah mereka tidak memahami persoalan tersebut?

Apakah mereka menganggapnya hanya sebagai bagian dari hiburan?

Atau justru telah terjadi perubahan cara pandang di kalangan generasi muda terhadap nilai-nilai keagamaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak dapat dijawab hanya melalui satu video. Namun, peristiwa itu setidaknya memperlihatkan sebuah fenomena sosial yang patut diperhatikan.

Sebab, krisis tidak selalu terlihat dalam bentuk penolakan terhadap agama. Kadang krisis justru terlihat ketika sesuatu yang seharusnya dianggap sensitif dan sakral tidak lagi menimbulkan kepekaan.

Bukan Menyalahkan Remaja, Tetapi Mempertanyakan Sistem yang Membentuk Mereka

Menurut Niko AL, persoalan tersebut juga tidak tepat apabila seluruh kesalahan langsung dibebankan kepada remaja yang berada di lokasi.

Mereka adalah bagian dari lingkungan pendidikan dan sosial yang dibentuk oleh banyak faktor.

Di sinilah peran orang tua, sekolah, guru, lingkungan pergaulan dan pendidikan agama menjadi sangat penting.

Orang tua memiliki tanggung jawab memberikan pendampingan dan pemahaman kepada anak mengenai batas antara hiburan, pergaulan dan nilai agama.

Sekolah tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Pendidikan karakter, etika, moral dan pemahaman agama juga harus menjadi bagian penting dalam membentuk kepekaan seorang pelajar.

Sementara pendidikan agama tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menghafal ayat atau surat semata.

Hafal Al-Qur’an adalah satu hal. Memahami kehormatan, makna dan posisi Al-Qur’an dalam kehidupan adalah hal yang berbeda.

Ironisnya, dalam kasus ini justru muncul pertanyaan besar: seseorang dapat melafalkan Surah Ad-Duha, tetapi ayat yang sama ditempatkan dalam sebuah tantangan untuk mendapatkan hadiah minuman keras.

Lebih jauh lagi, ketika aksi tersebut berlangsung, lingkungan sekitarnya justru memberikan respons berupa sorak-sorai.

Di Sinilah Alarm Itu Seharusnya Berbunyi

Niko AL menilai, kasus ini semestinya tidak hanya berakhir pada proses hukum terhadap pihak-pihak yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Ada persoalan pendidikan dan pembentukan karakter yang jauh lebih panjang untuk dibicarakan.

Jika generasi muda mulai kehilangan kepekaan terhadap sesuatu yang dianggap sakral, maka persoalannya bukan hanya siapa yang salah pada satu malam di sebuah festival.

Pertanyaannya adalah:

Apa yang selama ini diajarkan kepada mereka?

Bagaimana pengawasan orang tua terhadap lingkungan pergaulan anak-anaknya?

Seberapa kuat pendidikan karakter di sekolah?

Dan seberapa dalam pemahaman agama yang diberikan kepada generasi muda sehingga mereka mampu membedakan mana hiburan, mana candaan, mana kebebasan berekspresi, dan mana tindakan yang berpotensi melukai nilai keagamaan?

Karena itu, kasus tantangan hafalan Al-Qur’an berhadiah miras harus menjadi momentum evaluasi bersama.

Bukan untuk menghakimi seluruh remaja yang hadir.

Bukan pula untuk menyimpulkan bahwa semua pelajar telah kehilangan moral atau pemahaman agama.

Tetapi untuk menyalakan alarm bahwa pendidikan karakter dan keagamaan generasi muda membutuhkan perhatian yang lebih serius.

Orang Tua dan Guru Jangan Hanya Bereaksi Setelah Terjadi

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi orang tua dan guru bahwa pengawasan terhadap anak tidak boleh hanya dilakukan ketika masalah sudah muncul.

Remaja membutuhkan pendampingan untuk memahami bagaimana bersikap ketika berada di tengah kerumunan, menghadapi tekanan teman sebaya, melihat sesuatu yang dianggap tidak pantas, dan berani mengatakan tidak ketika sebuah tindakan bertentangan dengan nilai yang diyakininya.

Sebab keberanian moral bukan hanya kemampuan untuk menghafal.

Keberanian moral adalah kemampuan untuk bersikap ketika melihat sesuatu yang dianggap salah.

Dan justru pertanyaan itulah yang kini muncul dari peristiwa tersebut, bukan semata-mata ditujukan kepada para remaja yang hadir.

Pertanyaan itu juga ditujukan kepada orang tua, sekolah, guru, lingkungan sosial, penyelenggara acara dan seluruh pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap pembentukan generasi muda.

Kasus hukumnya biarkan berjalan sesuai hukum dan pembuktian.

Namun, alarm sosialnya jangan sampai ikut berhenti ketika kasus ini tidak lagi menjadi berita viral.

Sebab apabila benar terdapat persoalan menurunnya kepekaan terhadap nilai agama dan pendidikan karakter di kalangan generasi muda, maka penyelesaiannya tidak cukup dengan penetapan tersangka.

Yang harus diperbaiki adalah ekosistem yang membentuk mereka.

Apakah kita sedang menghadapi krisis moral dan pendidikan generasi muda, atau selama ini kita terlalu sibuk menyalahkan anak-anak tanpa pernah benar-benar bertanya siapa yang seharusnya mendidik dan mengawasi mereka?

RED