Investigasi.co.id, Jakarta 11 April 2026 – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan ambisi besar pemerintah dalam mendorong kemandirian industri otomotif nasional dengan menargetkan produksi massal sedan listrik dalam negeri pada tahun 2028.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar transformasi ekonomi nasional, dari negara konsumen menjadi produsen kendaraan listrik berbasis kekuatan sumber daya alam dan industrialisasi berbasis teknologi.
Presiden menekankan bahwa Indonesia tidak memulai dari nol. Saat ini, kapasitas produksi kendaraan listrik nasional telah berkembang, mulai dari bus hingga kendaraan niaga, dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang terus meningkat. Pemerintah menargetkan TKDN mencapai hingga 60–80 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam rangka mewujudkan target tersebut, pemerintah juga tengah menyiapkan pembentukan perusahaan khusus yang akan fokus pada pengembangan dan produksi sedan listrik nasional. Proyek ini diproyeksikan menjadi tonggak lahirnya kembali “mobil nasional” dalam versi modern berbasis energi listrik.
Sejumlah BUMN dan mitra strategis diperkirakan akan terlibat dalam pengembangan ekosistem ini, termasuk PT Industri Baterai Indonesia (IBC) sebagai penggerak sektor baterai, PT PLN (Persero) dalam penyediaan infrastruktur pengisian daya, serta PT Pertamina (Persero) dalam transformasi energi.
Di sisi lain, pemerintah juga membuka peluang kolaborasi dengan produsen global seperti Hyundai Motor Company dan BYD Company guna mempercepat penguasaan teknologi dan produksi massal.
Secara teknis, sedan listrik nasional diperkirakan akan menyasar segmen pasar menengah dengan harga kompetitif di kisaran Rp300 juta hingga Rp500 juta. Kendaraan ini diproyeksikan memiliki jarak tempuh 300–500 kilometer per pengisian daya, menjadikannya alternatif realistis bagi masyarakat perkotaan.
Dari sisi ekonomi, kehadiran mobil listrik dinilai mampu menekan biaya operasional kendaraan secara signifikan. Dengan estimasi biaya penggunaan listrik sekitar Rp250 per kilometer, jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak yang mencapai sekitar Rp830 per kilometer, masyarakat berpotensi menghemat hingga 70 persen biaya energi.
Namun demikian, sejumlah tantangan masih membayangi, mulai dari kesiapan infrastruktur pengisian daya yang belum merata, harga awal kendaraan yang relatif tinggi, hingga risiko ketergantungan pada teknologi asing jika tidak dikelola secara strategis.
Pengamat menilai, proyek ini merupakan langkah berani sekaligus krusial. Jika berhasil, Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan matang, proyek ini berisiko menjadi sekadar ambisi tanpa realisasi, sebagaimana pengalaman proyek mobil nasional sebelumnya seperti Esemka.
Dengan target waktu yang semakin dekat, konsistensi kebijakan, kolaborasi global, serta keberpihakan pada industri nasional menjadi kunci utama keberhasilan. Proyek sedan listrik ini bukan sekadar soal kendaraan, melainkan pertaruhan besar masa depan industri, energi, dan kemandirian ekonomi Indonesia.
– NIKO –






