BUPATI IMRON RESMI MEMBUKA PAMERAN KERIS “GUGAH GAMAN CIREBON 2026” 

Budaya633 Dilihat

INVESTIGASI.CO.ID CIREBON — Upaya menghidupkan kembali tradisi seni perkerisan di wilayah pesisiran Cirebon mendapat momentum melalui penyelenggaraan Pameran Keris “Gugah Gaman Cirebon 2026”. Bupati Cirebon, Drs. H. Imron Rosyadi, M.Ag., secara resmi membuka kegiatan tersebut dengan melakukan prosesi penempaan bahan besi keris, Jumat (30/10/2026), bertempat di Pendopo Bupati Cirebon, Jalan R.A. Kartini No. 7, Kejaksan, Kota Cirebon.

Bukan sekadar membuka acara secara simbolis, prosesi menempa besi panas tersebut menjadi gambaran nyata tentang bagaimana sebuah keris dilahirkan melalui proses panjang yang membutuhkan keahlian, ketelitian, dan ketekunan. Tradisi itu sekaligus menyampaikan pesan bahwa warisan budaya tidak akan bertahan apabila tidak ada regenerasi para pelaku yang terus menguasai dan mengembangkan keterampilannya.

Pameran yang digagas Paguyuban SAKETI (Seni Kreatif Tosan Aji) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon ini turut mendapat dukungan Kohin (AR Collection), tokoh yang dikenal sebagai pemerhati sekaligus pelaku perkerisan Tosan Aji di tingkat nasional.

Mengusung tema “Gugah Gaman Cirebon” dengan subtema “Fajar Kebangkitan Ekosistem dan Tradisi Seni Kriya Perkerisan Pesisiran Cirebon”, kegiatan tersebut membawa misi lebih luas dari sekadar memamerkan benda-benda pusaka. Agenda ini menjadi upaya memperkenalkan kembali kekayaan seni kriya perkerisan sekaligus membangun kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga ekosistem budaya yang menyertainya.

Sebab, keris tidak berdiri sebagai sebuah benda seni semata. Di balik setiap bilahnya terdapat keterampilan dan mata rantai pekerjaan yang saling terhubung, mulai dari empu yang menempa logam, perajin warangka, pembuat deder atau gagang, selut, mendak, hingga tenaga ahli yang menangani penjamasan dan perawatan pusaka.

Setiap bagian memiliki karakter keahlian tersendiri yang menjadi penopang keberlangsungan tradisi Tosan Aji. Karena itu, pelestarian perkerisan tidak cukup dilakukan dengan mengoleksi atau memamerkan keris, tetapi juga harus memastikan para perajin, empu, dan pelaku pendukungnya tetap memiliki ruang untuk berkarya.

Keterlibatan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan ini diharapkan mampu memperkuat perhatian terhadap keberadaan seni tradisional, sekaligus membuka peluang sinergi antara komunitas budaya, perajin, kolektor, dan unsur pemerintahan. Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon, Drs. H. Hendra Nirmala, S.Sos., M.Si., juga menjadi salah satu unsur pemerintahan yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Salah satu agenda utama yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah demonstrasi pembuatan keris oleh empu muda asal Cirebon, Lingga Nugraha. Melalui peragaan secara langsung, pengunjung dapat menyaksikan tahapan pengolahan logam hingga pembentukan bilah keris yang membutuhkan penguasaan teknik, konsentrasi, serta pengalaman dalam proses penempaan.

Peragaan tersebut memberikan gambaran bahwa keris merupakan hasil karya seni dengan proses penciptaan yang kompleks. Nilai sebuah keris tidak hanya terletak pada bentuk akhirnya, tetapi juga pada pengetahuan, teknik pengerjaan, dan nilai estetika yang diwariskan melalui tradisi para empu.

Selain demonstrasi, penyelenggara menghadirkan talkshow bertajuk Keris Cirebon dengan menghadirkan Jimmy S. Hariyanto, tokoh perkerisan nasional. Diskusi tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai sejarah, filosofi, karakteristik, nilai artistik, serta perkembangan seni perkerisan di wilayah Cirebon.

Nuansa kebudayaan dalam kegiatan ini juga diperluas melalui sejumlah pertunjukan dan pameran seni lainnya. Pengunjung disuguhkan pameran lukisan, pertunjukan tari tradisional oleh Sanggar Ni Mas Mayang Sari, serta penampilan seni bela diri Silat Padjadjaran.

Ragam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Cirebon tidak hanya bertumpu pada satu bidang kesenian. Seni rupa, seni kriya, tari tradisional, hingga bela diri merupakan bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai dan karakter masing-masing.

Dengan menghadirkan berbagai ekspresi seni dalam satu ruang, Gugah Gaman Cirebon 2026 diharapkan mampu menjangkau kalangan yang lebih luas. Tidak hanya kolektor maupun pemerhati pusaka, tetapi juga masyarakat umum dan generasi muda agar semakin mengenal warisan budaya daerahnya.

Namun, tantangan pelestarian tradisi perkerisan tidak berhenti pada upaya menjaga keberadaan benda-benda pusaka. Hal yang jauh lebih penting adalah mempertahankan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk membuat, merawat, dan meneruskan pengetahuan tersebut.

Keberadaan empu, besalen sebagai tempat aktivitas para perajin, dokumentasi teknik pembuatan, serta ruang pembelajaran bagi generasi penerus merupakan unsur penting dalam membangun kesinambungan tradisi. Tanpa dukungan terhadap seluruh unsur tersebut, keberlangsungan seni kriya perkerisan berpotensi menghadapi persoalan regenerasi.

Melalui kegiatan ini, SAKETI bersama Disbudpar Kabupaten Cirebon berupaya mempertemukan berbagai elemen yang memiliki kepedulian terhadap Tosan Aji. Pameran tersebut sekaligus menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan penguatan jejaring antarpelaku seni perkerisan.

Ke depan, upaya membangun ekosistem budaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran. Pengembangan kegiatan edukasi, lokakarya keterampilan, dokumentasi sejarah, hingga kolaborasi antarkomunitas menjadi langkah yang dapat memperkuat keberadaan tradisi perkerisan Cirebon.

Prosesi penempaan besi membara yang mengawali pembukaan Gugah Gaman Cirebon 2026 menjadi representasi bahwa kebudayaan harus terus dihidupkan melalui tindakan nyata. Warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, disimpan, atau dipajang, melainkan perlu dipelajari, dikerjakan, dan diwariskan secara berkelanjutan.

Dari Pendopo Bupati Cirebon, semangat Gugah Gaman Cirebon 2026 diharapkan menjadi titik penggerak kebangkitan ekosistem seni kriya perkerisan pesisiran, agar tradisi Tosan Aji tetap lestari, berkembang, dan mampu menemukan tempatnya di tengah perubahan zaman.

RIDHO. R