Investigasi.co.id, KUNINGAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, masih menyisakan ancaman. Hingga laporan terbaru Jumat, 23 Oktober 2026, sebanyak tiga titik api masih terpantau setelah sebelumnya dilaporkan terdapat lima titik api.
Kebakaran yang terdeteksi sejak Rabu malam, 21 Oktober 2026, sekitar pukul 20.44 WIB di Grid 15 M, wilayah Resor Pasawahan, SPTN Wilayah I Kuningan, dilaporkan merambat ke arah barat menuju Blok Yanggo, Desa Cibuntu. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap meluasnya kebakaran di kawasan konservasi.
Dalam perkembangan penanganan, titik api dilaporkan masih terpantau di sejumlah lokasi, di antaranya Blok Cipariuk, Blok Karang Dinding, dan kawasan sekitar Bukit Seribu Bintang (BSB). Pemantauan Kamis sore menunjukkan kebakaran belum sepenuhnya terkendali.
Upaya pemadaman dilakukan tim gabungan yang melibatkan Balai TNGC, Manggala Agni, TNI-Polri, BPBD, petugas pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan dan warga. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga dilaporkan turun langsung memimpin penanganan.
Namun, medan terjal, angin kencang, keterbatasan sumber air, serta sulitnya mobilisasi personel dan peralatan menjadi tantangan serius. Di sejumlah titik, petugas harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer untuk menjangkau lokasi kebakaran. Pemadaman dilakukan secara manual, termasuk menggunakan jet shooter, pemukulan api, dan pembuatan sekat bakar.
Di tengah upaya penanganan, penyebab kebakaran masih menjadi tanda tanya. Dugaan adanya unsur kesengajaan sempat disampaikan relawan berdasarkan situasi di lapangan, tetapi hingga kini belum dapat dipastikan sebagai penyebab resmi. Penyelidikan tetap diperlukan untuk mengungkap apakah kebakaran dipicu faktor alam, kelalaian, atau tindakan sengaja.
Ancaman karhutla ini bukan sekadar persoalan api yang membakar vegetasi, melainkan juga menyangkut kelestarian habitat satwa, fungsi ekologis hutan, serta keselamatan petugas dan masyarakat sekitar. Besaran kerusakan lingkungan dan luas total lahan yang terbakar dalam kejadian terbaru masih memerlukan pendataan dan verifikasi.
Publik kini menanti langkah penanganan yang benar-benar tuntas, bukan sekadar penurunan jumlah titik api. Sebab, selama bara masih tersisa dan potensi penyalaan kembali belum diantisipasi, ancaman kebakaran Gunung Ciremai belum sepenuhnya berakhir.
NIKO






