Investigasi.co.id, Indonesia, Juli 2025 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah di berbagai sekolah dan pesantren di Indonesia merupakan langkah strategis untuk menjamin kecukupan gizi bagi anak-anak usia sekolah. Dengan tujuan meringankan beban keluarga sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan, program ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Namun, di balik niat mulia tersebut, muncul kenyataan yang memprihatinkan: banyak makanan tidak habis dimakan, bahkan berakhir di tempat sampah.
“Banyak anak tidak suka menunya. Akhirnya tidak habis, dibuang begitu saja,” ungkap seorang guru di wilayah Jawa.
Di beberapa sekolah, bahkan terlihat warga atau orang tua murid memunguti sisa makanan yang masih layak konsumsi. “Daripada mubazir,” ujar seorang ibu, sembari memasukkan bekas makan siang ke dalam wadah bawaannya.
Niat Baik, Tantangan Nyata
Di atas kertas, program MBG tampak ideal. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, semangat belajar meningkat, dan masa depan bangsa lebih cerah. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Banyak kendala muncul, terutama dalam hal penerimaan terhadap menu yang disajikan.
Beberapa menu seperti ayam katsu, rolade, dan salad terasa asing di lidah anak-anak yang terbiasa dengan sayur bening, tempe goreng, dan sambal rumahan. Akibatnya, makanan tidak dimakan dan terbuang sia-sia.
Gratis Bukan Berarti Tak Bernilai
Menurut pakar perilaku Richard Thaler, barang yang diperoleh secara cuma-cuma sering kali tidak dihargai. Fenomena ini sangat relevan dalam konteks program MBG, terutama bila tidak dibarengi dengan pendidikan nilai dan pendampingan yang memadai.
“Anak-anak masih dalam tahap berpikir konkret. Mereka perlu contoh nyata, bukan hanya nasihat,” jelas seorang psikolog pendidikan.
Tanpa bimbingan guru atau orang tua, anak-anak rentan membentuk kebiasaan membuang makanan tanpa rasa bersalah.
Sistem Tanpa Nilai, Program Kehilangan Arah
Program MBG merupakan sistem besar: mulai dari pengadaan bahan pangan, proses memasak, distribusi ke sekolah, hingga pelaporan anggaran. Namun, yang kerap terabaikan adalah pembentukan karakter dan nilai.
Jika anak-anak hanya dijadikan penerima pasif tanpa dilibatkan secara emosional maupun edukatif, maka nilai seperti syukur, tanggung jawab, dan empati tak akan pernah tumbuh.
Faktor Utama Terjadinya Pemborosan:
Menu tidak sesuai selera dan budaya lokal
Jadwal makan tidak sesuai kondisi anak (belum lapar)
Tidak ada pendampingan atau contoh dari guru
Kurangnya pendidikan nilai dan etika makan
Pendidikan Nilai: Kunci yang Terlupakan
Konsep bersyukur bukan sekadar mengucap “Alhamdulillah” sebelum makan. Anak-anak perlu tahu bahwa setiap butir nasi adalah hasil dari kerja keras banyak pihak: petani, penggiling padi, pedagang bahan makanan, juru masak, hingga pengantar makanan ke sekolah.
Menurut teori Abraham Maslow, makan adalah kebutuhan dasar. Namun bila dikemas dengan pendekatan edukatif, makan juga dapat menjadi momen pembentukan karakter dan nilai kehidupan.
Rekomendasi Solusi Berbasis Nilai:
Libatkan siswa dalam pemilihan menu secara berkala
Ajak anak-anak untuk ikut menyiapkan makanan, agar menghargai proses
Sampaikan edukasi ringan soal menghargai makanan dan pentingnya menghabiskannya
Dampingi anak saat makan, berikan teladan nyata dari guru/orang tua
Jangan Sampai Niat Baik Berakhir Mubazir
Program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk generasi emas Indonesia. Namun ketika makanan bergizi malah terbuang, perlu evaluasi serius: apakah nilai dan tujuan program benar-benar sampai kepada anak-anak kita?
Rekomendasi perbaikan:
Menyesuaikan menu dengan selera dan budaya lokal
Mengatur ulang jadwal makan sesuai aktivitas harian siswa
Integrasi pendidikan karakter dalam setiap penyelenggaraan program
Karena setiap sendok nasi yang terbuang, adalah nilai syukur yang tidak tersampaikan.
Dan bangsa yang besar hanya akan lahir dari generasi yang tahu menghargai sekecil apa pun rezeki.
(Catatan Opini Moh.Saifulloh)








