Investigasi.co.id – Indramayu, 19 Juni 2026 – Kelangkaan gas LPG subsidi 3 kilogram atau yang dikenal sebagai “gas melon” dalam sepekan terakhir mulai menimbulkan keresahan di wilayah Kecamatan Haurgeulis dan Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu. Warga mengaku kesulitan mendapatkan pasokan gas bersubsidi yang selama ini menjadi kebutuhan utama rumah tangga maupun aktivitas pertanian.
Kondisi tersebut dikeluhkan berbagai kalangan masyarakat, termasuk para petani yang saat ini tengah memasuki masa penting pengelolaan lahan pertanian. Kelangkaan gas melon dinilai telah memperburuk beban masyarakat yang sebelumnya juga menghadapi kesulitan memperoleh BBM jenis Pertalite.
Ketua Kelompok Tani Desa Mekarjati, Kecamatan Haurgeulis, mengungkapkan bahwa pasokan LPG 3 kilogram di wilayahnya semakin sulit diperoleh. Akibatnya, banyak warga harus berkeliling mencari tabung gas ke berbagai pangkalan maupun pengecer, bahkan dengan harga yang jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, khususnya petani yang saat ini membutuhkan energi untuk menunjang kegiatan pertanian.
Informasi yang berkembang di lapangan menyebutkan, kelangkaan tersebut dipicu oleh sulitnya memperoleh BBM jenis Pertalite yang biasa digunakan untuk operasional mesin penyedot air. Karena kesulitan mendapatkan bahan bakar, sebagian petani beralih menggunakan gas melon sebagai sumber energi alternatif untuk mendukung kebutuhan pengairan sawah.
Peralihan penggunaan energi tersebut diduga menyebabkan lonjakan permintaan LPG 3 kilogram yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan di tingkat pangkalan maupun distributor. Akibatnya, masyarakat umum yang menjadi pengguna utama gas subsidi ikut terdampak.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas pengawasan distribusi energi bersubsidi di daerah. Jika tidak segera ditangani, kelangkaan LPG berpotensi mengganggu aktivitas rumah tangga, usaha mikro, hingga sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat pedesaan.
Masyarakat dan petani berharap Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama instansi terkait segera melakukan langkah konkret, mulai dari penambahan kuota LPG 3 kilogram, pengawasan distribusi yang lebih ketat, hingga penyediaan solusi alternatif bagi kebutuhan energi pertanian.
“Kami hanya ingin bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga. Jangan sampai petani yang sedang berjuang mempertahankan produksi pangan justru kesulitan mendapatkan energi untuk mengairi sawah maupun kebutuhan sehari-hari,” ungkap salah satu petani setempat.
Kelangkaan yang terus berlangsung tanpa kepastian solusi dikhawatirkan akan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat bawah. Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi juga mengambil tindakan cepat dan terukur agar krisis energi bersubsidi di Haurgeulis dan Gantar tidak semakin meluas.






