Gelombang Kritik Mahasiswa di Depan DPR Ketika Indonesia Emas Diuji oleh Realitas

Peristiwa1042 Dilihat

investigasi.co.id, JAKARTA, 19 Juni 2026 – Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jumat (19/6). Aksi yang berlangsung secara bergelombang sejak sore hari itu memperlihatkan satu benang merah yang sama: meningkatnya kegelisahan generasi muda terhadap arah kebijakan nasional, efektivitas program pemerintah, hingga isu supremasi sipil yang kembali menjadi perbincangan publik.

Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi kelompok pertama yang tiba sekitar pukul 15.20 WIB dengan membawa tema besar “Revolusi Indonesia Emas”. Sekitar 150 peserta aksi menyuarakan lima tuntutan utama, mulai dari evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), penolakan terhadap pemborosan anggaran negara, peningkatan kesejahteraan guru honorer, stabilisasi harga BBM, hingga penegakan supremasi sipil. Menurut Ketua HMI Cabang Jakarta Selatan, Fadlan Rahman, cita-cita Indonesia Emas tidak akan tercapai apabila pemerintah gagal memastikan kebijakan yang transparan, efisien, dan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.

Gelombang aksi berikutnya datang dari BEM Universitas Mercu Buana sekitar pukul 15.45 WIB dengan kekuatan sekitar 200 mahasiswa. Kelompok ini menyoroti persoalan yang lebih luas, terutama terkait penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda yang dinilai belum memiliki peta jalan yang jelas dan terukur. Selain itu, mereka mendesak pemerintah membuka hasil audit Program MBG dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program Koperasi Desa Merah Putih. Tidak hanya itu, mahasiswa juga menyampaikan kekhawatiran terhadap sejumlah regulasi yang dinilai berpotensi memperluas keterlibatan militer dalam ruang sipil serta perubahan Undang-Undang Polri yang dianggap perlu mendapatkan pengawasan publik lebih ketat. Perwakilan BEM Universitas Mercu Buana, Afria Nanda, menegaskan bahwa investasi terbesar negara seharusnya diarahkan pada pendidikan, riset, teknologi, dan penciptaan lapangan kerja sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Sekitar pukul 16.05 WIB, massa dari Universitas Trisakti dan Universitas Esa Unggul tiba secara bersamaan. Mahasiswa Trisakti yang berjumlah sekitar 600 orang tampil dengan tuntutan yang lebih lugas dan politis, yakni memulihkan ekonomi dan politik nasional, memberantas inkompetensi pejabat negara, serta mengembalikan supremasi sipil. Sementara itu, 165 mahasiswa Universitas Esa Unggul menyoroti perlunya evaluasi seluruh program strategis nasional agar berjalan efektif dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mereka juga menuntut penguatan pengawasan keuangan negara, keterbukaan komunikasi publik pemerintah, serta menolak segala bentuk militerisme di ranah sipil demi menjaga demokrasi konstitusional.

Jika dicermati, aksi yang berlangsung di depan DPR ini bukan sekadar demonstrasi rutin mahasiswa, melainkan refleksi atas meningkatnya tuntutan akuntabilitas publik terhadap pemerintah. Isu yang paling banyak disorot adalah Program Makan Bergizi Gratis, transparansi penggunaan anggaran negara, penciptaan lapangan kerja, serta kekhawatiran terhadap menguatnya peran institusi keamanan di ruang sipil. Beragam tuntutan yang disampaikan menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berbicara tentang persoalan kampus, tetapi juga mengambil posisi sebagai penjaga demokrasi dan pengawas kebijakan publik. Di tengah berbagai narasi optimisme menuju Indonesia Emas 2045, aksi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya diukur dari besarnya program yang diluncurkan, tetapi juga dari transparansi, efektivitas, dan kepercayaan publik yang mampu dibangun oleh pemerintah.

– Moh Adiansyah –