Oleh Redaksi
Investigasi.co.id – KOTA CIREBON – Rabu, 17 Juni 2026, menjadi hari yang tak mudah dilupakan bagi keluarga besar MI Salafiyah Kota Cirebon. Di sebuah ruangan yang dipenuhi tawa, doa, dan rasa syukur, puluhan siswa kelas VI mengikuti acara syukuran dan pelepasan sebelum melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya.
Di wajah-wajah mungil itu terpancar kebahagiaan. Mereka tersenyum, bercanda, dan mengabadikan momen bersama teman-teman yang selama enam tahun terakhir menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Namun di balik senyum yang mengembang, tersimpan sebuah kenyataan yang diam-diam mengiris hati: hari itu adalah awal dari sebuah perpisahan.
Perpisahan memang tidak pernah benar-benar mudah, terlebih ketika yang ditinggalkan bukan sekadar bangunan sekolah, melainkan kenangan yang tumbuh setiap hari. Dari suara bel sekolah yang selalu ditunggu, teguran guru yang penuh kasih, hingga sahabat yang setia menemani saat jatuh dan bangkit. Semua akan menjadi cerita masa lalu yang suatu saat hanya bisa dikenang melalui foto-foto yang mulai menguning dimakan waktu.

Di sisi lain, para orang tua tampak berusaha tersenyum. Mereka ikut bertepuk tangan ketika nama anak-anak mereka dipanggil. Mereka ikut berfoto dan saling memberi ucapan selamat. Namun jauh di dalam hati, terselip kegelisahan yang tidak semua orang mampu melihat.
Ke mana anak mereka akan melanjutkan sekolah?
Apakah sekolah impian yang diharapkan dapat menerima mereka?
Apakah perjuangan selama ini akan berbuah sesuai harapan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam benak para orang tua. Di tengah suasana syukur, ada kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Masa depan anak-anak mereka masih berada dalam proses, masih menunggu keputusan, masih menjadi teka-teki yang jawabannya belum tentu sesuai harapan.Di sela acara yang berlangsung di RM Ayam Umbaran, Jalan Pangeran Cakrabuana, Kabupaten Cirebon, para orang tua terlihat saling berbincang hangat. Mereka bertukar cerita tentang sekolah tujuan, biaya pendidikan, hingga harapan-harapan sederhana agar anak-anak mereka kelak menjadi pribadi yang sukses dan berakhlak baik.Ironisnya, mereka sadar bahwa kebersamaan yang selama ini terjalin perlahan akan terurai oleh ruang dan waktu.
Anak-anak yang dulu setiap pagi berangkat bersama akan menempuh jalan yang berbeda. Sebagian akan masuk pesantren, sebagian memilih sekolah negeri, sebagian lainnya melanjutkan ke sekolah swasta favorit. Pertemuan yang dahulu menjadi rutinitas akan berubah menjadi kenangan.
Mungkin beberapa tahun ke depan mereka masih saling menyapa melalui media sosial. Namun waktu memiliki cara yang kejam untuk memisahkan. Kesibukan, jarak, dan perjalanan hidup akan membuat pertemuan semakin jarang terjadi.

Inilah hakikat pendidikan yang sering terlupakan. Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat manusia belajar tentang kehilangan. Setiap kenaikan kelas adalah perpisahan kecil. Setiap kelulusan adalah pengingat bahwa tidak ada kebersamaan yang berlangsung selamanya.
Hari itu, MI Salafiyah Kota Cirebon tidak hanya melepas siswa kelas VI. Madrasah itu sedang melepas ribuan kenangan yang telah tumbuh selama enam tahun. Melepas tawa yang pernah memenuhi ruang kelas. Melepas langkah-langkah kecil yang dulu datang dengan seragam kebesaran dan wajah polos penuh mimpi.
Dan ketika acara usai, kursi-kursi kembali kosong, panggung kembali sunyi, serta foto-foto terakhir selesai diabadikan, semua orang pulang membawa perasaan yang sama: bahagia karena berhasil sampai di garis akhir, namun sedih karena harus berpisah dengan bagian indah dari perjalanan hidup mereka.
Karena pada akhirnya, setiap pertemuan selalu menyimpan satu kepastian yang tak bisa ditolak siapa pun: perpisahan.






