Investigasi.co.id, Cirebon — Jalan rusak kembali “memakan korban”. Kali ini bukan warga biasa, melainkan seorang tokoh masyarakat yang dihormati, KH. Asep Ahmad Saefullah, pengasuh Pondok Pesantren Majelis Tarbiatul Mubtadi’in, Benda Kerep, Kota Cirebon.
Peristiwa itu terjadi di ruas jalan penghubung Kalilunyu – Sumur Wuni, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, ketika kendaraan yang ditumpangi mengalami patah as roda, ironisnya untuk kedua kalinya di lokasi yang sama, Kamis malam (19 Maret 2026)

Jalan yang dipenuhi lubang besar, diperparah genangan air yang menutup permukaan rusak, menjadi “jebakan maut” bagi pengendara. Kondisi tersebut membuat kerusakan tak terlihat, hingga akhirnya kendaraan milik KH. Asep tak mampu bertahan dan mengalami kerusakan serius pada bagian As Roda.
Sementara itu, KH. Asep juga mengungkapkan kekecewaannya atas kejadian yang kembali menimpanya.
“Ini bukan kejadian pertama. Sudah dua kali mengalami hal serupa di titik yang sama. Kondisi jalannya memang sangat memprihatinkan,” ungkapnya.
Dalam insiden itu, tokoh pemuda masyarakat setempat, Rio Setiawan, yang kebetulan berada di lokasi, sigap membantu. Ia segera menghubungi dan menjemput teknisi bengkel ke lokasi kejadian agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin.
Kepada awak media, Rio menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi jalan yang dinilainya sudah sangat membahayakan. Ia menegaskan bahwa korban bukan hanya kendaraan roda empat, melainkan juga pengendara sepeda motor yang kerap terjatuh, bahkan mayoritas dialami oleh perempuan.
“Yang sering terjadi itu justru pengendara motor jatuh, banyak di antaranya perempuan. Bagaimana kalau yang jatuh itu ibu hamil? Ini sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal,” tegas Rio dengan nada serius.
Rio juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama warga Kalilunyu telah berulang kali melakukan berbagai upaya, mulai dari penyampaian aspirasi hingga aksi sosial, namun hingga kini belum ada perhatian nyata dari pihak terkait.

Lebih jauh, ia menyoroti peran wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Kota Cirebon, khususnya Een Rusmiati, yang disebut berdomisili tidak jauh dari lokasi jalan rusak tersebut. Menurutnya, sepanjang tahun 2025 tidak terlihat adanya langkah konkret dalam memperjuangkan perbaikan jalan yang menjadi keluhan warga.
“Padahal beliau sering melintasi jalan ini. Kondisinya jelas terlihat di depan mata, tapi tidak ada hasil nyata dari upaya yang dilakukan. Saat masyarakat butuh perhatian, aspirasi seharusnya bisa segera direalisasikan,” tambahnya.
Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam dari warga sekitar. Mereka menilai kerusakan jalan sudah berlangsung lama tanpa adanya penanganan serius dari pihak terkait. Bahkan, warga menyuarakan kritik tajam terhadap para wakil rakyat yang dinilai tidak hadir di tengah persoalan nyata yang dirasakan masyarakat.
“Seolah kami tidak punya wakil rakyat. Mereka duduk di kursi DPRD, tapi jalan di wilayah kami rusak parah dibiarkan begitu saja,” keluh seorang warga dengan nada geram.
Sorotan pun diarahkan kepada anggota DPRD Kota Cirebon dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3, yakni:
• Een Rusmiati
• Anita Tri Handayani
• Harry Saputra Gani
• Erry Yudistira Ramadhan
• Tresnawaty
• Umar Stanis Klau
Warga berharap para legislator tersebut tidak hanya hadir saat masa kampanye, tetapi juga mampu menjembatani aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Kota Cirebon dan dinas terkait untuk segera melakukan perbaikan jalan secara menyeluruh.

Sebelumnya, berbagai bentuk protes telah dilakukan warga sebagai bentuk keputusasaan. Mulai dari aksi demonstrasi hingga aksi simbolik menanam pohon pisang dan menebar ikan lele di kubangan jalan rusak, sebuah sindiran keras atas lambannya penanganan infrastruktur di wilayah tersebut.
Kini, setelah kembali memakan korban, warga menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa lagi ditoleransi. Mereka menuntut langkah konkret dan cepat, sebelum kerusakan jalan kembali menelan korban berikutnya.
NIKO • INVESTIGASI.CO.ID






