Investigasi.co.id, JAKARTA — Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendorong jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk lebih aktif menjadikan esports sebagai salah satu wadah pembinaan dan penjaringan talenta muda. Instruksi tersebut diarahkan agar kompetisi esports tidak hanya berlangsung di tingkat pusat, tetapi juga rutin digelar mulai dari Polsek, Polres, hingga Polda.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Polri mendekatkan diri dengan generasi muda sekaligus membuka ruang bagi anak-anak muda yang memiliki kemampuan di bidang olahraga elektronik untuk berkembang secara lebih terarah.
Kompetisi esports yang digelar secara berjenjang dinilai dapat menjadi sarana menemukan bibit-bibit atlet digital dari berbagai daerah. Para pemain berkesempatan menunjukkan kemampuan mereka di tingkat lokal sebelum melangkah ke kompetisi yang lebih tinggi.
Program tersebut salah satunya diwujudkan melalui KAPOLRI CUP 2026, yang menggunakan sistem kompetisi berjenjang dari tingkat Polres, Polda hingga Mabes Polri. Turnamen tersebut mempertandingkan Mobile Legends: Bang Bang dan melibatkan ribuan tim dari berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan data penyelenggara, KAPOLRI CUP 2026 tercatat diikuti ribuan tim dari puluhan provinsi. Kompetisi tingkat Polres menjadi pintu awal bagi peserta untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat Polda hingga kompetisi nasional.
Bagi Polri, esports tidak semata-mata dipandang sebagai aktivitas bermain gim. Kompetisi tersebut juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai sportivitas, disiplin, kerja sama tim, kompetisi sehat serta membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi di industri digital.
Arahan Kapolri agar kompetisi digelar secara rutin di tingkat kewilayahan juga menunjukkan bahwa pembinaan tidak harus selalu dimulai dari pusat. Polsek dan Polres dapat menjadi pintu pertama bagi komunitas esports lokal untuk mendapatkan ruang kompetisi dan pembinaan.
Dengan pola tersebut, pemain yang selama ini hanya berkembang melalui komunitas atau bermain secara mandiri memiliki kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan mereka dalam kompetisi yang lebih terstruktur.
Langkah Polri ini sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan dunia digital dan esports tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ketika dikelola secara positif, esports dapat menjadi sarana produktif untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan strategi, kerja sama, sekaligus membuka jalan menuju profesi baru di industri digital.
Ke depan, konsistensi pelaksanaan kompetisi di tingkat Polsek hingga Polda menjadi kunci agar program tersebut tidak berhenti sebatas turnamen seremonial. Jika dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, jaringan kompetisi kepolisian berpotensi menjadi salah satu jalur pencarian dan pembinaan atlet esports muda dari berbagai daerah hingga tingkat nasional.
RED






